Stunting merupakan masalah global yang serius. Saat ini diperkiraan telah terjadi pada lebih dari 160 juta anak usia balita di seluruh dunia dan jika tidak ditangani dengan baik, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada penambahan 127 juta anak stunting di dunia. Masalah stunting juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), walaupun berhasil turun sekitar 2,8 persen dibandingkan tahun 2021, prevalensi stunting Indonesia pada tahun 2022 masih berada di angka 21,6 persen.
Stunting bukan hanya berdampak pada pertumbuhan tinggi badan saja, namun lebih dari itu. Anak yang mengalami stunting juga akan mengalami gangguan pada perkembangan otak dan sistem kekebalan. Dampak lebih lanjut anak akan mengalami gangguan kecerdasan, rentan dari penyakit, dan nantinya berisiko terhadap tingkat produktivitas. Oleh karena itu, masalah stunting penting untuk diselesaikan, karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak.
Sementara itu program penuntasan kasus Stunting di NTB terus digencarkan. Gerakan Gotong Royong Bakti Stunting di berbagai Kabupaten/Kota se Provinsi NTB terus dilakukan. Program ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menyiapkan generasi muda terbaik menyongsong masa depan dengan cara pemenuhan protein hewani, merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah Stunting, protein hewani ini diberikan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) berupa telur ayam. Salah satunya Gotong-Royong Bakti Stunting Di Kecamatan Labuhan Haji - Lombok Timur. Terus Menyentuh Sasaran dengan Rutin dan Berkelanjutan dengan berbagi dan distribusi telur.